Maudhu’ atau palsu berasal dari kata ata wadha’a – yadha’u – wadh’an wa maudhu’an yang berarti merendahkan, menjatuhkan, mengada-ngada, menyandarkan atau menempelkan, serta menghinakan. Maka, hadis maudhu’ itu memiliki makna, rendah dalam kedudukannya, jatuh tidak bisa diambil dasar hukum, diada-adakan oleh perawinya, serta disandarkan pada Nabi SAW, sedangkan beliau tidak mengatakannya.
Para ulama hadis mendefinisikan hadis palsu sebagai apa-apa yang tidak pernah keluar dari Nabi SAW baik dalam bentuk perkataan, perbuatan ataupun taqrir, tetapi disandarkan kepada Rasulullah SAW secara sengaja. Menurut Ensiklopedi Islam, hadis maudu’ memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Pertama, matan (teks) hadis tak sesuai dengan kefasihan bahasa, kebaikan, kelayakan, dan kesopanan bahasa Nabi SAW. Kedua, bertentangan dengan Alquran, akal, dan kenyataan. Ketiga, rawinya dikenal sebagai pendusta, Keempat, pengakuan sendiri dari pembuat hadis palsu tersebut. Kelima ada petunjuk bahwa di antara perawinya ada yang berdusta. Keenam, rawi menyangkal dirinya pernah memberi riwayat kepada orang yang membuat hadis palsu tersebut.
Menurut ahli Ilmu Hadis, Prof KH Mustafa Ali Ya’kub, sebuah hadis dikatakan palsu apabila, dalam sanad-nya terdapat rawi (periwayat), yang dengan terus terang dia mengaku memalsu hadis. ‘’Maka hadisnya menjadi palsu,’’ tutur guru besar Ilmu Hadis pada Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta itu.
Selain itu, kata dia, jika perawinya pun berdusta, tapi tidak diketahui ketika menyampaikan hadisnya apakah palsu atau tidakm, namun jelas dia pembohong. Maka, menjadi hadis makruh atau semipalsu. ‘’Kedudukan dan kualitasnya sama, yakni harus dibuang.’’
Hadis palsu dibagi menjadi tiga macam. Pertama, perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah SAW. Kedua, perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu yang menjadikannya hadis. Ketiga, perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya, cuma dia keliru. Menurut para ahli hadis, jenis ketiga itupun termasuk hadis maudhu, apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya.Menurut Manna’ Al-Qathan dalam Mabahis Fi Ulumil Hadits, Hadis maudhu’ adalah yang paling buruk dan jelek di antara hadis-hadis dhaif (lemah) lainnya. Ia menjadi bagian tersendiri di antara pembagian hadis oleh para ulama yang terdiri dari shahih, hasan, dhaif dan maudhu’. ‘’Maka maudhu’ menjadi satu bagian tersendiri,’’ ungkap Al-Qathan.
Lalu, bagaimana jika umat Islam menggunakan hadis palsu? Menurut KH Ali Ya’kub, hadis palsu sama sekali tak boleh digunakan. Bebeda dengan hadis dhaif (lemah) yang masih bisa digunakan. Namun, kata dia, tak semua hadis dhaif bisa digunakan.
‘’Hadis dhaif bisa digunakan, kalau dhaif-nya tidak terlalu parah. Yang parah itu, misalnya, hadis palsu, hadis makruh, dan hadis munkar. Hadis munkar itu periwayatnya pelaku maksiat,’’ tutur Kiai Ali Ya’kub.
Sejatinya, kata dia, hadis palsu itu merupakan bagian dari hadis dhaif. Hadis palsu adalah hadis dhaif yang paling parah. Guna memahami sebuah hadis itu palsu atau tidak, umat Islam bisa mendeteksinya dengan tiga cara. Pertama, tutur Kiai Ali Ya’kub, dengan metode pemahaman tekstual dan kontekstual.
Kedua, dengan menggabungkan riwayat-riwayat yang lain. Dan, ketiga, melalui metode kontroversialitas hadis, misalnya. ‘’Yang tekstual dan kontekstual, misalnya, tentang fatwa nabi apakah pakaian nabi itu kita diharuskan mengikuti seperti itu termasuk sorban, misalnya. Orang yang memahami secara tekstual, apa yang dipakai oleh nabi ya harus kita ikuti. Tapi, yang kontekstual tidak karena itu budaya Arab,’’ ungkap Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
http://www.republika.co.id
Cari Blog
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Februari 2012
Inilah Motif di Balik Munculnya Hadis Palsu
REPUBLIKA.CO.ID, Hadis maudhu’ atau palsu muncul dan merebak ketika dunia Islam diguncang ketegangan setelah Khalifah Usman bin Affan dibunuh pada tahun 35 H. Sosok Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang memeluk Islam, kerap disebut-sebut sebagai biang kerok dari ketegangan di kalangan pemimpin dan umat Islam pada zaman itu.
Abdullah bin Saba dan komplotannya menabur fitnah di berbagai kota Islam. Mereka mencongkel dan menggulingkan sejumlah gubernur yang ditempatkan Khalifah. Gubernur Mesir, Amru Bin Ash berhasil didongkel lewat fitnah yang diterbarkan kelompok Sabaiyah. Setelah itu, Gubernur Kufah, Amru bin Ash juga digulingkan.
Namun, mereka gagal mendongkel Muawiyah dari kursi Gubernur Syam, karena posisinya begitu kuat. Suhu politik di dunia Islam ketika itu makin memanas, ketika Khalifah Usman bin Affan dibunuh. Menurut sebuh versi, Abdullah bin Saba’ terlibat dalam pembuhunan Khalifah Usman bin Affan. Ada pula yang menyebut pembunuh khalifak ketiga itu adalah Amr bin Hamiq Al-Khuza’i.
Sehingga, ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib berkuasa Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang berpura-pura mendukung Ali mendesak agar Umayyah dicopot dari jabatannya sebagai gubernur. Ketegangan makin meningkat, ketika Muawiyyah mendesak Khalifah Ali untuk segera menghukum pelaku pembunuhan Khalifah Usman.
Bahrul Ulum dalam tulisannya bertajuk Hukum Meriwayatkan dan Menyebarkan Hadis Palsu, mengungkapkan, Abdullah bin Saba’ menyebarkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Ali-lah yang lebih layak menjadi khalifah, dibandingkan Usman bahkan Abu Bakar dan Umar.
Kelompok itu berpendapat, Ali telah mendapat wasiat dari Nabi SAW. Hadis yang digaung-gaungkan oleh kelompok Abdullah bin Saba’ itu berbunyi, “Setiap Nabi itu ada penerima wasiatnya dan penerima wasiatku adalah Ali.” Menurut para hali hadis, hadis tersebut ternyata palsu.
Pada masa itu, hadis palsu belum terlalu marak. Sebab, masih banyak sahabat Rasulullah yang masih hidup. Mereka, menurut Bahrul, memahami secara pasti benar atau palsunya sebuah hadis. ‘’Khalifah Usman, sebagai contohnya, pernah mengusir Ibnu Saba’ dari Madinah karena telah membuat hadis palsu,’’ tutur Bahrul.
Hadis palsu merebak ketika di dunia Islam muncul kelompok-kelompok, seperti kelompok yang menuntut balas kematian Usman, kelompok yang mendukung Khalifah Ali, dan kelompok di luar keduanya. Setiap kelompok berlomba untuk eksis dan menunjukkan kelebihannya dengan membuat hadis-hadis palsu.
Kondisi itu sempat mengundang keprihatinan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Imam al-Dzahabi meriwayatkan dari Khuzaimah bin Nasr, “Aku mendengar Ali berkata di Siffin: Semoga Allah melaknati mereka (yaitu golongan putih yang telah menghitamkan) karena telah merusak hadis-hadis Rasulullah.”
Sejak itu, para sahabat mulai memberikan perhatian terhadap hadis yang disebarkan oleh seseorang. Sehingga, mereka tak akan mudah menerimanya sekiranya ragu akan kesahihan sebuah hadis.
Konflik politik di kalangan umat Islam yang semakin hebat, telah membuka peluang bagi golongan tertentu yang coba mendekatkan diri dengan pemerintah dengan cara membuat hadis. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam al-Israiliyyat wa al-Maudhuat fi Kutub al-Tafsir, mengungkapkan, pada zaman Khalifah Abbasiyyah, hadis-hadis palsu dibuat demi mengambil hati para khalifah.
Menurut Abu Syahbah, hal itu sempat terjadi pada era kepemimpinan Harun al-Rasyid. Saat itu, Abu al-Bakhtari, seorang qadhi, masuk menemuinya ketika ia sedang menerbangkan burung merpati. Lalu Khalifah berkata kepada Abu al-Bakhtari, “Adakah engkau menghafal sebuah hadits berkenaan dengan burung ini?
Lalu dia meriwayatkan satu hadits, katanya, “Bahwa Nabi SAW selalu menerbangkan burung merpati.” Harun al-Rasyid tahu bahwa hadis itu palsu dan dia segera memarahi al-Bahktari,’’ “Jika engkau bukan dari keturunan Quraisy, pasti aku akan mengusirmu.”
Penyebaran hadis-hadis palsu pada zaman itu masih sedikit dibanding zaman-zaman berikutnya. Sebab, pada masa itu masih banyak para tabiin yang menjaga hadis-hadis Nabi SAW.
Kondisi itu sempat mengundang keprihatinan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Imam al-Dzahabi meriwayatkan dari Khuzaimah bin Nasr, “Aku mendengar Ali berkata di Siffin: Semoga Allah melaknati mereka (yaitu golongan putih yang telah menghitamkan) karena telah merusak hadis-hadis Rasulullah.”
Sejak itu, para sahabat mulai memberikan perhatian terhadap hadis yang disebarkan oleh seseorang. Sehingga, mereka tak akan mudah menerimanya sekiranya ragu akan kesahihan sebuah hadis.
Konflik politik di kalangan umat Islam yang semakin hebat, telah membuka peluang bagi golongan tertentu yang coba mendekatkan diri dengan pemerintah dengan cara membuat hadis. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam al-Israiliyyat wa al-Maudhuat fi Kutub al-Tafsir, mengungkapkan, pada zaman Khalifah Abbasiyyah, hadis-hadis palsu dibuat demi mengambil hati para khalifah.
Menurut Abu Syahbah, hal itu sempat terjadi pada era kepemimpinan Harun al-Rasyid. Saat itu, Abu al-Bakhtari, seorang qadhi, masuk menemuinya ketika ia sedang menerbangkan burung merpati. Lalu Khalifah berkata kepada Abu al-Bakhtari, “Adakah engkau menghafal sebuah hadits berkenaan dengan burung ini?
Lalu dia meriwayatkan satu hadits, katanya, “Bahwa Nabi SAW selalu menerbangkan burung merpati.” Harun al-Rasyid tahu bahwa hadis itu palsu dan dia segera memarahi al-Bahktari,’’ “Jika engkau bukan dari keturunan Quraisy, pasti aku akan mengusirmu.”
Penyebaran hadis-hadis palsu pada zaman itu masih sedikit dibanding zaman-zaman berikutnya. Sebab, pada masa itu masih banyak para tabiin yang menjaga hadis-hadis Nabi SAW.
Berikut ini beberapa motif dibalik munculnya hadis-hadis palsu di dunia Islam:
Pertama, motif politik dan kepemimpinan. Salah satu hadis palsu yang muncul dengan latar belakang politik antara lain; ‘’Apabila kamu melihat Mu'awiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah.’’
Kedua, motif untuk mengotorkan agama Islam (Zindiq). Salah satu contoh hadisnya antara lain; "Melihat muka yang cantik adalah ibadah’’. Ketiga, motif fanatisme. Contoh hadisnya, ‘’Sesungguhnya Allah apabila marah, maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila tidak marah menurunkannya dalam bahasa Parsi.’’
Keempat motif faham-faham fikih. Contoh hadisnya, ‘’Barangsiapa mengangkat dua tangannya di dalam shalat maka tidak sah shalatnya ". atau hadis yang berbunyi, "Jibril mengimamiku di depan Ka'bah dan mengeraskan bacaan bismillah".
Kelima, motif senang kepada kebaikan tapi bodoh tentang agama. Salah satu hadisnya, ‘’Barangsiapa menafahkan setali untuk mauludku, maka aku akan menjadi penolongnya di yaumil akhir."
Kelima motif menjilat kepada pemimpin. Salah satu contohnya, Ghiyas bin Ibrahim an-Nakha'i al-Kufi pernah masuk ke istana Al-Mahdi, seorang penguasa Abbasiyah yang senang sekali kepada burung merpati. Salah seorang berkata kepadanya, coba terangkan kepada amirul mukminin tentang sesuatu hadis, maka Ghiyas berkata, "Tidak ada taruhan melainkan pada anak panah, atau unta atau kuda, atau burung."
Hadis palsu, menurut guru besar IAIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Muhibbin, bisa muncul dalam kitab hadis sahih sekaliber, Jami' al-Shahih karya Imam Bukhari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.
'’’Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,’’ papar mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo itu.
Salah satu hadis palsu, yang terdapat dalam kitab itu, antara lain; tentang Isra Mikraj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mikraj itu sebelum Muhammad SAW menjadi nabi. ‘’Faktanya, Isra Mi'raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi,’’ ungkapnya.
Selain itu, lanjut dia, ada pula hadis Nabi yang bertentangan dengan ayat Alquran. ‘’Contohnya, tentang seseorang yang meninggal dunia akan disiksa bila si mayit ditangisi oleh ahli warisnya. (Lihat Kitab Jenazah, bab ke-32, hadis ke 648/I--Red),’’ kata dia. Ia menilai hadis itu bertentangan dengan ayat Alquran, bahwa seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain.
Pertama, motif politik dan kepemimpinan. Salah satu hadis palsu yang muncul dengan latar belakang politik antara lain; ‘’Apabila kamu melihat Mu'awiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah.’’
Kedua, motif untuk mengotorkan agama Islam (Zindiq). Salah satu contoh hadisnya antara lain; "Melihat muka yang cantik adalah ibadah’’. Ketiga, motif fanatisme. Contoh hadisnya, ‘’Sesungguhnya Allah apabila marah, maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila tidak marah menurunkannya dalam bahasa Parsi.’’
Keempat motif faham-faham fikih. Contoh hadisnya, ‘’Barangsiapa mengangkat dua tangannya di dalam shalat maka tidak sah shalatnya ". atau hadis yang berbunyi, "Jibril mengimamiku di depan Ka'bah dan mengeraskan bacaan bismillah".
Kelima, motif senang kepada kebaikan tapi bodoh tentang agama. Salah satu hadisnya, ‘’Barangsiapa menafahkan setali untuk mauludku, maka aku akan menjadi penolongnya di yaumil akhir."
Kelima motif menjilat kepada pemimpin. Salah satu contohnya, Ghiyas bin Ibrahim an-Nakha'i al-Kufi pernah masuk ke istana Al-Mahdi, seorang penguasa Abbasiyah yang senang sekali kepada burung merpati. Salah seorang berkata kepadanya, coba terangkan kepada amirul mukminin tentang sesuatu hadis, maka Ghiyas berkata, "Tidak ada taruhan melainkan pada anak panah, atau unta atau kuda, atau burung."
Hadis palsu, menurut guru besar IAIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Muhibbin, bisa muncul dalam kitab hadis sahih sekaliber, Jami' al-Shahih karya Imam Bukhari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.
'’’Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,’’ papar mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo itu.
Salah satu hadis palsu, yang terdapat dalam kitab itu, antara lain; tentang Isra Mikraj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mikraj itu sebelum Muhammad SAW menjadi nabi. ‘’Faktanya, Isra Mi'raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi,’’ ungkapnya.
Selain itu, lanjut dia, ada pula hadis Nabi yang bertentangan dengan ayat Alquran. ‘’Contohnya, tentang seseorang yang meninggal dunia akan disiksa bila si mayit ditangisi oleh ahli warisnya. (Lihat Kitab Jenazah, bab ke-32, hadis ke 648/I--Red),’’ kata dia. Ia menilai hadis itu bertentangan dengan ayat Alquran, bahwa seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)